Mengamati profil Muhammad Assad yang sangat inspiratif, yang beberapa waktu terakhir semakin rising star dan banyak disorot menyusul laris-manisnya bukunya “Notes from Qatar”, seakan menyambut oase segar di tengah tandusnya problem degradasi intelektual mahasiswa Indonesia Timur Tengah (Timteng).
Betapa tidak, Assad yang merupakan entitas dari mahasiswa Indonesia Timteng, secara menakjubkan bisa tampil sebagai “wajah lain” dari “wajah kebanyakan” mahasiswa Indonesia Timteng, yang selama ini kerap ter-stereotip sebagai wajah-wajah rendah kompetensi, rendah daya saing, dan miskin wawasan peran.
Jika pada usia dan jenjang pendidikan yang sama, mahasiswa Indonesia Timteng lainnya kerap terjangkit permasalahan-permasalahan krusial semisal dangkalnya spesialisasi, minimnya karya dan peran (Lokakarya Pendidikan KBRI Cairo, 2008), rendahnya daya kritisme, daya analisa dan daya argumentasi (Hamid Fahmi Zarkasyi), serta rendahnya kemampuan menulis dan penguasaan bahasa Inggris (Alwi Shihab), maka sebaliknya, Assad justru secara tidak langsung meneladankan bagaimana seharusnya mahasiswa Indonesia Timteng bisa selamat dari permasalahan-permasalahan tersebut, dan bahkan bisa melakukan hal-hal yang membanggakan dan bermanfaat bagi bangsanya.
Dengan meraih anugerah Rector’s Gold Award di bidang Business Information Systems di jenjang Strata Satu UTP, lalu memperdalam spesialisasi di program master bidang Islamic Finance di Qatar, serta juga berkomitmen untuk menjadi entrepreneur, sosok Assad dengan teguh menginspirasikan urgensi pembangunan kompetensi yang kokoh lewat konsistensi spesialisasi dan pilihan profesi.
Selain itu, Assad juga menginspirasikan tentang urgensi pencapaian kompetensi global, dengan tetap menjunjung tinggi tugas moral selaku mahasiswa Timteng. Selain aktif di beberapa forum/aktivitas nasional/internasional, semisal Indonesian Future Leaders, 3rd UNESCO Asian Youth Forum, G-8 G-20 Youth Summit, dan lain-lain, Assad juga senantiasa mengasah kualitas spiritualnya, dan terus rutin membagi hikmah perjalanan keimanannya kepada khalayak luas.
Degradasi Intelektual
Tidak berlebihan untuk menilai akumulasi permasalahan krusial mahasiswa Indonesia Timteng dekade sekarang sebagai bentuk degradasi intelektual yang akut.
Jika pada abad ke 17 hingga awal abad ke-19, kita mengenal nama-nama sekaliber Hamzah Fansuri, Nurudin Raniri, Yussuf Makassari, Abdul Samad Palimbani, Khatib Minangkabawi, Yusuf Banjari, dan lain-lain, yang selain merupakan peletak pembaruan Islam di Nusantara, juga merupakan sosok-sosok yang melahirkan karya-karya besar di bidang Fikih, Tafsir, Hadits, dan Tasawuf, yang terekspansi tak hanya sebatas taraf domestif nusantara, tapi bahkan juga sampai diakui di kawasan Timteng (Azyumardi Azra, 2007), maka adakah dari mahasiswa Indonesia Timteng era sekarang yang mampu memiliki kapabilitas intelektual, karya dan peranan serupa?
Jika pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, kita juga mengenal profil-profil sekaliber Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Wahid Hasyim, Buya Hamka, Abdul Kahar Mudzakkir, Harun Nasution dan lain-lain, yang karya, kompetensi dan kontribusinya sampai bisa menstimulan pengakuan Mesir dan Liga Arab terhadap kemerdekaan Indonesia (Dubes A.M. Fachir, 2009), maka sekali lagi, adakah dari mahasiswa Indonesia Timteng era sekarang yang mampu memiliki kapabilitas intelektual, karya dan peranan serupa?
Second-Track Diplomacy
Curamnya kesenjangan kapabilitas intelektual, karya dan peran antara mahasiswa Indonesia Timteng dekade sekarang dan pendahulunya ini tentu saja mengkhawatirkan, dan perlu disadari secara masif untuk kemudian ditanggulangi dengan serius. Hal ini terutama mengingat bahwa ribuan mahasiswa Indonesia Timteng sebenarnya merupakan aset strategis yang sangat potensial untuk memainkan fungsi second-track diplomacy, sebagaimana yang telah banyak diteladankan oleh pendahulunya, yang secara historis bahkan sampai berbuah pengakuan Mesir dan Liga Arab terhadap kemerdekaan Indonesia.
Idealnya, dalam konteks pembenahan kualitas diri, mahasiswa Indonesia Timteng era sekarang diharapkan bisa merefleksikan kapabilitas intelektual, karya dan peran para pendahulunya sebagai cermin dan tolak ukur pembenahan kapabilitas intelektual, karya dan peranan/wawasan peran mereka, baik ketika berada di Timteng atau ketika kembali ke tanah air.
Lebih lanjut, dalam hal pemberdayaan peran sebagai stakeholder fungsi second-track diplomacy, mahasiswa Indonesia Timteng sebenarnya sedang tertantang untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa berkapabilitas peran seperti pendahulunya, terutama terkait upaya-upaya agar Indonesia (kembali) dipandang penting di Timteng.
Saat ini, fenomena demokratisasi di Timteng terus menjadi pusat perhatian dunia, dan di fase penting pencarian jati diri demokratisasi Timteng ini, Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim dan berdemokratisasi terbesar di dunia, sebenarnya sangat layak untuk menjadi negara rujukan demokrasi, khususnya dalam hal bagaimana Islam, Demokrasi dan Modernitas bisa tumbuh berdampingan. Hanya ironisnya, Indonesia ternyata jarang sekali “dilirik”, dan “lirikan” negara Timteng, khususnya Mesir justru jatuh ke Negara Malaysia yang demokratisasinya dinilai lebih mensejahterakan.
Demikian, di titik vital urgensi second-track diplomacy ini, tidak ada lagi alasan bagi mahasiswa Indonesia Timteng untuk terus terpuruk dalam problem degradasi intelektualnya. Sosok Assad telah dengan gamblang meneladankan bagaimana ia mampu mengusung fungsi second-track diplomacy dengan sangat apik, sekaligus menginspirasikan bagaimana seharusnya mahasiswa Indonesia Timteng bisa keluar dari permasalahannya sendiri, dan agar juga mampu tampil bermanfaat dan solutif terhadap permasalahan bangsanya.[]

