Saturday, November 27, 2010

Today's Lecture Note ::

Ada statemen menarik dari Dosen "Tanfidz Jabri" (DR. Hamid Muhammad Abu Thalib) pada perkuliahan siang ini. Menurut beliau, Prinsip Hukum yang menetapkan ketidak-legalan penyitaan terhadap tanah milik orang yang berhutang, yang memiliki luas tidak lebih dari 5 kaki, pada historisnya memiliki pengaruh sosial yang sangat besar terhadap kedaulatan Mesir secara umum, karena secara langsung maupun tidak langsung telah membebaskan Mesir dari ekspansi "kolonialisme" Yahudi pada awal abad ke-19. Terutama mengingat bahwa pada masa itu, masyarakat Mesir kebanyakan hanya memiliki areal tanah pertanian yang luasnya tak lebih dari 5 kaki.

Tanpa Prinsip Hukum ini, besar kemungkinan Mesir sudah bernasib seperti Palestina, karena pada masa tersebut, Yahudi sangat agresif mengekspansi wilayah kepemilikannya dengan jalan menyebarkan pinjaman-pinjaman uang/barang kepada masyarakat Arab, dengan bunga yang berlipat-lipat, yang pada akhirnya kerap berujung pada berpindahnya kepemilikan hak milik tanah-tanah milik orang Arab ke tangan orang Yahudi melalui sistem sita-menyita.

Di titik inilah, Prinsip Hukum ini memiliki pengaruh sosial yang sangat besar terhadap kedaulatan Mesir secara umum. Karena tidak seperti Palestina, regulasi perkara perdata di Mesir pada era itu, telah jauh lebih tertata dan berkepastian hukum.

Mohon elaborasi dan feedbacknya ya semua :)

Read More......

Tuesday, November 23, 2010

On Another Disturbing FB Status and My Feedback on It ::

Status Facebook Rashid Satari:

Urgensi Indonesia di mata Amerika adalah sebesar nilai bakso, nasi goreng, sate, bemo dan becak. Paspampres RI dipreteli pengawal Obama: siapa tamu siapa tuan rumah?! Lalu, pemerintah dan segelintir anak bangsa standing aplaus, bangga dengan semua itu. Sakit!

My Feedback:

I think I dont really agree with u on this case hehe boleh kan :D Dalam peta konstelasi perpolitikan global yang sedang menaruh perhatian besar kepada ASEAN, urgensi Indonesia tak bisa juga disimplifikasi dengan terma2 nostagia Obama as what u mentioned. The Habibie Center, sebagai lembaga Think Tank yang non pemerintah saja melihat penting regionalisme ASEAN sampai mengestablisasi ASEAN Studies Program. Yang mana setiap kali kita membincang ASEAN, tentu kita semua maklum dengan andil signifikan Indonesia di dalamnya.

Tentu kita tak boleh lepas dari kritisme atas setiap gerak-gerik US sebagai kekuatan dunia yang dalam sejarahnya selalu bergerak penuh kepentingan dengan tendensi utama ingin menguasai dunia, dan pada realitanya sedang kebakaran jenggot dengan pengaruh dan kekuatan China yang semakin meraja dan menggurita bangkan di South East Asia. Tapi di atas semua itu, kita harus realistis dan tahu diri juga menempatkan diri dalam konstelasi perpolitikan global.

Di lain sisi, kita tentu juga maklum bahwa kunjungan kenegaraan suatu Presiden terhadap suatu negara adalah indikasi mutlak bahwa negara yang dikunjungi merupakan negara penting, dan dalam tradisi diplomasi kita, keberhasilan Dubes suatu negara akreditasi tertentu untuk mendatangkan Kepala Negara akreditasi bersangkutan juga merupakan prestasi tesendiri yang bersamanya akan banyak implikasi positifnya terhadap "keuntungan" bilateral masing2 negara.

Memang "keuntungan2" bilateral ini banyak tak tampak "besar", sebesar citra, martabat dan kedudukan kita di mata dunia. Tapi absurd juga jika semua hal tersebut seperti tak dipandang.

Aku jadi ingat tulisan Pak Anies Baswedan di Kompas tentang urgensi membangun keoptimisan dan positive thinking. Sikap ini to some extent bukan bentuk sikap pro pemerintah, tapi lebih kepada bagaimana membangun keoptimisan bahwa kita sebenarnya adalah bangsa yang cerdas, bangsa yang besar. Yang kita sangat butuhkan adalah sinergi dan kritisme positif.


His Respond:

Wow, itu bukan makalah kan?! Aku nggak lagi kampanye negative thinking. Apa yg dikau dapat di Habibie Center mnrtku adalah sst yg udah jd pengetahuan umum. Poin statusku sederhana saja; jangan merasa cukup dengan Citra diri, sebelum punya Harga diri. Itu saja. Diplomasi hanyalah seni. Tidak lebih. ;)

My Respond:

Hehe jadi gini K, aku tertarik untuk nulis "makalah" si sini setelah menangkap makna dari kalimat status Antum: "Urgensi Indonesia di mata Amerika adalah sebesar nilai bakso, nasi goreng, sate, bemo dan becak." Aku melihat ini adalah reduksi yang sangat fatal terhadap substansi keseluruhan Pidato Obama. Apa yang diakui Obama dalam banyak hal yang secara umum mengindikasikan potensi besar Indonesia itu sudah banyak disadari dan diungkapkan oleh media, Political Scientist dan Stakeholders kita, jadi ini bisa diukur relevansinya, atau dengan kata lain, bukan hanya sekedar bualan "Obama" untuk bermanis2. Nah makanya aku terhentak membaca status ini lalu menuliskan poin2 sanggahanku itu hehe.

Sekali2 donk gapapa diskusi model gini :D

His Respond:

Tp nilai benda2 tsb bagi Obama kan belum tentu bermakna remeh, Des. Nilai itu bisa saja besar meski konteksnya hanya sbg nostalgia saja: menjadi penting bagi Amerika, tp hampa bagi Indonesia. Buah relasi bilateral kedua negara yg kentara adalah ketimpangan Freeport Papua dan ketimpangan demokratisasi tanah air. Mestinya, untuk meningkatkan citra diri, Indonesia tidak mesti jadi "Amerika". Sampel: Mengapa harus Obama yg mengajak seisi istana negara utk berdiri bersama dan bersulang, "Cheerrsss!" Hey, tuan rumah kah kita?! Jangan berapologi dgn diplomasi ah! :)

My Respond:

Just one humble question, did you really listen all content of his speech? Klo benar2 menyimak dan benar2 positif dan tidak menutup mata dengan perkembangan posisi Indonesia dalam perpolitikan global, rasanya komentar bahwa urgensi kita sebatas Sate, dll itu ngga akan pernah terucapkan.

Apa yang Antum maksud dengan ketimpangan demokratisasi di Tanah Air? Lalu bisakan Antum tunjukkan negara mana yang berpencapaian demokratisasi sebesar Indonesia, yang bahkan dalam rentang proses transisi sistem perpolitikan domestik yang sangat mengerikan bisa keluar dari krisis moneter yang sangat mengerikan? Suatu hal yang sebenarnya membanggakan, Amerika saja belum keluar dari Krisisnya dan semakin terlilit "hutang" dengan China. C-mon lah kita lihat segala sesuatu dengan komprehensif, kita berpositif dengan segala potensi kita sembari terus membudayakan kritisme yang membangun.

Memang demokratisasi kita is yet to learn, tapi kita harus juga bersyukur bahwa kita bersejarah demokratisasi yang sangat kental dan sejauh ini transformasi kita luar biasa mengingat betapa kita tetap bisa united dalam NKRI sekian tahun. Kita harus bangga negara kita demokratis. tidak se-otoriter China, tidak sediktator dan sekejam Myanmar, tidak se-typical Middle East yang benar2 basically are not democratic, arus demokratisasi dan reformasi yang dulu sampai melengserkan Soeharto bahkan patut untuk menjadi percontohan bagi Mesir dalam konteks perpolitikan domestiknya yang sekarang.

Nah, masalah bersulang itu kan juga interpretasi logika Antum aja, sm kyk interpretasi reduktif Antum ttg Sate dll itu. Peace donkkk ;)

His Respond:

Singkat aja, boleh dong nanya balik, apakah dikau benar2 mengenal Obama dan Amerika-nya, lebih dari sekedar pidato Obama?! Atau, apakah dikau benar2 kenal Indonesia?! Aku yakin jawaban dikau adalah "belum dan masih belajar utk terus... mengenal". So, yuk belajar terus. Hingga kita benar2 sadar sepenuhnya bahwa Indonesia bisa lebih besar dari Amerika tanpa harus bangga dikunjungi dan diapresiasi Obama. Hingga kita benar-benar sadar bahwa demokrasi ala Amerika bukanlah final destination bagi Indonesia.

Ketimpangan Demokrasi: Apa menurut dikau Indonesia pasca Soeharto berjalan lebih baik?! Apa digdayanya Bakrie, jual beli hukum, mandulnya Presiden (dgn 60 % suara rakyat), itu indikasi majunya demokrasi di Indonesia?!

Kritisme dan Positive Thinking harus selaras. Itu Sepakat!

My Respond:

Hehe of course kita masih harus terus mengenali Dude :) Tapi aku berani ngomong mustahil tanpa bekal wawasan dan pengetahuan yang cukup kan Akhi.. Aku juga sangat mengikuti "karya" Bakrie yang menjadikan negara semakin seperti milik privat, aku juga kan dulu bareng2 sama Antum berusaha menjalarkan kritisme dan awareness Masisir terhadap fenomena Hukum yang benar2 timpang di negeri kita hingga sekarang. And hey Im not away to anywhere! Aku hanya ingin terus belajar melihat segala sesuatu dengan komprehensif, mengkritik yang harus dikritik dan mengepresiasi yang harus diapresiasi. Aku hanya ingin bangga pada yang harus dibanggakan dan resah dengan harus diresahkan. Itu saja.

Aku fokus ke content speechnya Obama yang di UI, karena status Antum kan emang sekarang fokus di sini. Tapi overall, kritikku terhadap reduksi Antum tersebut tentu berdasar pada apa yang sedikit2 dan terus kupelajari ttg perkembangan Indonesia kita, positif dan negatifnya.

His Respond:

Nahh.. Itulah bedanya diriku dan dirimu. Dirimu masih leluasa utk explore wawasan utk menajamkan kritisme. Dirikuw hrs pause dulu hahahha!

Ya! Status dan commentsku di atas itu adlh respon sederhana atas pidato Obama yg nampaknya rentan disikapi scr berlebihan oleh anak bangsa ini. Pidato hanyalah pidato. Tak ada bedanya dgn pidato SBY yg -misalnya- janji membeli ternak korban Merapi, tp hampa regulasi. Statusku itu utk menyadarkan sebagian anak bangsa yg -mungkin- sempat terhipnotis oleh Obama saat ia bicara di UI.

Yuk, tetap memijak bumi! ;)

Tambahan: Lebih bijak jika jangan dulu antipati pada Komunisme dan Sosialisme. Krn -setidaknya- diriku, jauh lebih salut pada China, Venezuela dan Bolivia, ketimbang pada Amerika. :D

My Respond:

Soalnya K, aku pernah ngerasain fase kyk Antum, tunding dan kritik sana-sini, bawaannya ya 'ainus sukhtiii ajaaa, ngga pernah melihat pencapaian2 juga, hanya fokus pada kesalahan hahaha ngga sadar gimana klo aku yang bakal disuruh ngurus negara se-complicated Indonesia.

Aku mengerti kok perasaan Antum yang tercermin dalam status ini, tapi lagi2 aku hanya kurang setuju klo gara2 itu semuanya jadi reduktif hehe.

Aku ngga sedang berapologi dengan diplomasi, aku ngga sedang terbang, aku hanya belajar dari apa yang dibudayakan Pak Anies Baswedan yang kusebut sebelumnya, aku juga belajar melihat Indonesia dengan mata yang lebih lebar, bukan hanya ainus sukhti alias pandangan stigmatik hehehe

His Respond:

Pandangan stigmatik akan mengawalmu utk tetap kritis. Hanya perlu diimbangi saja. Dan, dikau sedang melakukannya! ;)

My Respond:

Aku ngga terlalu paham dengan respond terakhir Antum, takut salah paham. Aku hanya ingin bilang lagi, aku ngga ke mana2 kok K, aku sampai sekarang masih ngga bisa liat muka Pak Beye lama2 karena eneg, aku nyesek pas liat langsung dengan mata-kepalaku sendiri bagaimana Lapindo karya besar Bakrie on my last trip to East Java, aku juga gregetan dengan Gayus, and so on.

Dialog ini mungkin hikmahnya adalah hanya sebentuk share transformasi kritisme aja dalam rangka mengobjektifkan kritisme itu sendiri. Perjalanan intim dengan nilai2 I-4 yang berusaha terus membangun keoptimisan bangsa, bahwa kita negara yang besar, negara yang cerdas, juga pemikiran2 Pak Anies Baswedan yang mengultimatum urgensi keoptimisan dan kritisme positif, juga etika kritik yang sangat apik dan membangun yang dibudayakan lembaga NON-PEMERINTAHAN sekelas THC, semuanya mengajarkanku untuk melihat segala sesuatu dengan mata yang lebih besar dan komprehensif.

Tapi aku tentu tidak sedang memaksakan pendapatku. Aku menghargai perbedaan pandangan kita, sebagaimana aku selalu menghargai dan berhutang pada kebijakan2 masukan Antum dalam masalah2 "privat"ku yang akut selama ini hehehe :D Nice to have such dialogue anyway :)

His Respond:

"Pandangan stigmatik" maksudnya?! Hehe aku kan cuma memakai terma-mu sendiri. Sederhananya, pandangan sperti itu seringkali perlu guna mengawal terus daya kritis kita.

Kita berbeda pandangan?! Masa sih?! Berdialog dgnmu kadang membua...tku tak bisa mendeteksi kontradiksi. Hehehe..!

Des.. Des.. Hingga hari ini aku tidak pernah memposisikan diri sbg oposisi trhdp paradigma optimisme. Termasuk optimisme bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa besar, tanpa intervensi asing! Termasuk optimisme bahwa Hanara bisa 'selamat' dari jebakan-jebakan mslh privacy-nya! Hehee.. ;)

My Respond:

Hehehe pandangan stigmatik itu ya what I said before as "tunding dan kritik sana-sini, bawaannya ya 'ainus sukhtiii ajaaa, ngga pernah melihat pencapaian2 juga, hanya fokus pada kesalahan hahaha ngga sadar gimana klo aku yang bakal disuruh ngurus negara se-complicated Indonesia."

Oke klo aku salah menyebut kita beda pandangan :D Tapi aku kurang setuju lagi nih dengan what you said Indonesia bisa menjadi negara besar tanpa intervensi negara asing, I think that's too arrogance Man... Kecuali jika makna intervensi di sini bukan bermakna urgensi regionalisasi, dan realita problem ketergantungan kita thd negara lain, termasuk masalah TKW (seperti yang pernah kita debatkan sebelumnya ttg Bilateral Indo-Malay).

Tapi waduhhh udah dulu deh debatnya, udah 2 hari dada sesek dan tadi bangun tidur enakan, tapi jadi sakit lagi pas ber-tensi2 di dialog ini wkwkwkw. Tapi lumayan juga sih latihan mencerdaskan emosi :D :D :D

His Respond:

Intervensi asing yg kumaksud tentu saja di luar urgensi regionalisasi. Krn "intervensi" berbeda dgn "bilateralisasi" hehe.. Menjadi bangsa besar tanpa intervensi asing bukan wujud arogansi, tp wujud kemandirian dan independensi seb...uah bangsa.

Waduhh.. Smoga diriku tak terkategori 'berdosa' krn telah ambil peran hingga membuatmu sesak dada :D Ok istirahat saja.

My Respond:

Oke klo gitu sepakat dengan maksud terma intervensinya. Tapi maksud arogansiku adalah dengan segala realita kita sekarang yang domestically sedang banyak ketergantungan termasuk masalah TKW dll as what we have been debating before :D :D :D

His Respond:

Nahh.. Oleh sebab itulah, banyak PR bagi bangsa ini agar ketergantungannya pd bangsa lain tdk berimbas negatif utk dalam negeri. :)

Read More......