Monday, November 16, 2009

Menanti CICAK Raksasa ::

Gerakan CICAK semakin hari semakin lantang gaungnya. Kini, semangat CICAK memang tak hanya merayap ganas di nusantara, tapi sudah merayap jauh ke luar nusantara.

Hingga sekarang tercatat tiga perwakilan/koalisi mahasiswa Indonesia di luar negeri yang dengan tegas telah menyatakan dukungannya terhadap KPK dan mengecam keras semua pihak yang berupaya melemahkan legitimasi dan otoritas KPK. Tiga perwakilan/koalisi tersebut adalah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Australia, PPI-Prancis dan Koalisi CICAK-Masisir yang merupakan gabungan dari beberapa organisasi strategis di lingkungan mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir).

Dan di Mesir, respon Masisir tak hanya sebatas pengeluaran Pernyataan Sikap yang dengan lantang disuarakan via media Nasional Kompas.com tanggal 5 November lalu, tetapi dengan momentum Hari Pahlawan kemarin, Masisir juga menggelar malam Deklarasi dan Aksi CICAK-Masisir yang secara umum ditujukan untuk menyebarkan pemahaman dan kesadaran masif atas polemik KPK kepada seluruh elemen Masisir lewat beberapa aksi moral seperti Deklarasi CICAK-Masisir, Bedah Dokumentasi Polemik KPK, serta Teatrikal dan Akustik yang bersemangat patriotik.

Potensi Mahasiswa Indonesia Luar Negeri

Potensi dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai aset intelektual dan agen perubahan berlaku merata bagi semua WNI yang berstatus mahasiswa, apapun spesialisasinya dan di manapun ia berada, tak terkecuali bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang studi di luar negeri.


Tuntutan akan potensi peran dan tanggung jawab moral ini menjadi semakin logis seiring berkembangnya sistem informasi dan komunikasi yang semakin mentiadakan alasan bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia luar negeri untuk tidak updated dan tidak aktif merespon segala polemik yang sedang berkecamuk di tanah air.

Terlebih sejak dulu, mahasiswa Indonesia luar negeri memang terbukti telah menunjukkan signifikansi perannya sebagai bagian dari entitas terpenting pembangunan dan dinamika bangsa, baik perannya sebagai aktor second track diplomacy di negara-negara tempatnya studi, maupun sebagai aktor intelektual yang aktif menyumbangkan ide dan pemikirannya lewat forum-forum internasional mahasiswa Indonesia Internasional, seperi PPI-Dunia, Overseas Indonesian Student Association Alliance (OISAA), dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) yang belum lama ini dikukuhkan eksistensinya.

Di Mesir contohnya, Masisir era kemerdekaan tercatat telah menjadi aktor diplomasi yang banyak menstimulan pengakuan Liga Arab dan Mesir atas kemerdekaan Indonesia. Atau contoh lain, dengan diadakannya Konferensi PPI-Dunia tahunan, banyak sekali input pemikiran yang telah dengan serius disumbangkan oleh mahasiswa Indonesia luar negeri demi perbaikan pembangunan bangsa.

Signifikasi Gerakan CICAK

Sampai saat ini gerakan CICAK telah menggelombang dahsyat menstimulan terungkapnya skandal-skandal besar-sistematis yang bertujuan melemahkan legitimasi dan otoritas KPK, serta mendesak kesungguhan dan itikad baik otoritas politik untuk benar-benar mendukung KPK dan mensinergikan kembali fungsi semua instansi penegak hukum dengan segala agenda pembersihan mafia hukum di masing-masing instansinya yang niscaya.

Gerakan ini menggelombang serentak dimotori oleh kesadaran moral beragam elemen bangsa, baik tokoh intelektual, akademisi, mahasiswa, aktivis LSM dan lain sebagainya. Dan seyogyanya, gerakan ini memang harus terus menggelombang besar hingga benar-benar bisa memporak-porandakan semua bangunan koruptif yang telah sedemikian kokoh dan mengakar di sebagian besar elemen bangsa kita.

Proyeksi CICAK Raksasa

Dengan standing point signifikansi gerakan CICAK di atas, peran semua komunitas mahasiswa Indonesia luar negeri sebagai entitas tak terpisahkan dari komponen pembangun bangsa, semakin urgen, strategis dan diharapkan. Sikap dan aksi-aksi dukungan terhadap KPK yang telah mulai dirintis oleh tiga perwakilan/koalisi mahasiswa Indonesia luar negeri tersebut sebelumnya hendaknya benar-benar dijadikan inspirasi oleh mahasiswa Indonesia di negara lain untuk segera menggalang sikap dan aksi-aksi serupa.

Kesadaran, pemahaman, dan stimulan untuk bergerak memang perlu disebar-luaskan secara masif lewat segala instrumen organisasi yang telah ada di masing-masing perwakilan mahasiswa di setiap negara. Tak ada alasan lagi untuk tidak ikut bergerak. Tak ada alasan lagi untuk menunda lahirnya CICAK-CICAK lain di semua belahan bumi menuju satu perwajahan CICAK-Dunia yang raksasa. Terlebih jika melihat peran media nasional yang semakin kooperatif menjadikan medianya sebagai “panggung” sikap dan aksi jarak jauh mahasiswa Indonesia luar negeri.

Demikian, CICAK Raksasa memang urgen untuk dicita-citakan dan diwujudkan bersama. Bayangkan berapa banyak mental intelektual anti korupsi yang akan terbangun serentak jika gerakan CICAK ini benar-benar men-dunia dan menjelma raksasa. Betapa akan semakin besar desakan dan tekanan terhadap otoritas politik dan hukum untuk benar-benar menjadikan momentum polemik KPK ini sebagai pintu gerbang reformasi struktural menuju sistem hukum dan sistem ketata-negaraan yang bersih dan komit terhadap pemberantasan korupsi.

Read More......

Friday, November 13, 2009

Diplomatic Perspective as A Solution! :) ::

On my last internship at Policy Analysis and Development Agency, Department of Foreign Affairs Republic of Indonesia, I got a precious chance to attend Roundtable Discussion titled: "The Implementation of Enlargement, Docking and Merging as a Process of Establishing FTAAP and Its Consequences for Indonesia" held by P3K2 Aspasaf. But to be honest, I was not too interested with such issue since it was unfamiliar issue for me. But surprisingly that from the following article, I start to find a nice method on how to be interested to learn everything related to my declared-area of concern (included this one), although that's unfamiliar for me. And yes, this is about how I should use a diplomatic perspective on every related things, as the writer of this article did :)

Here goes the article! :)



Dinamika Asia Pasifik

Jumat, 13 November 2009 | 02:33 WIB

Syamsul Hadi

Tanggal 14-15 November, KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC berlangsung di Singapura dengan tema ”Sustaining Growth, Connecting the Region”.

KTT yang dihadiri pemimpin 21 negara anggota APEC ini diarahkan pada tiga bahasan utama, yaitu positioning menghadapi pemulihan ekonomi global, dukungan terhadap sistem perdagangan multilateral, dan percepatan integrasi ekonomi regional.

Meski ekonomi dunia telah berangsur membaik, krisis global tetap menjadi fokus penting KTT ini. Seiring dengan itu, muncul berbagai pertanyaan kritis tentang efektivitas dan relevansi APEC di tengah hadirnya beragam perubahan dan alternatif pilihan dalam kerja sama di level global dan regional. Ide yang berkembang untuk ”menurunkan” level APEC menjadi sebatas forum para menteri ekonomi tampaknya berangkat dari kritisisme itu.

Kehadiran G-20 sebagai pengganti G-8 di level global dan gagasan Jepang tentang formasi komunitas Asia Timur dalam KTT ASEAN di Thailand baru-baru ini di level regional, misalnya, jelas merupakan dinamika yang langsung maupun tidak langsung menyempitkan ruang bagi artikulasi peran APEC dalam arsitektur kerja sama ekonomi di level global dan regional.

Dinamika dan perubahan

Dalam Transforming East Asia: the Evolution of Regional Economic Integration (2006), Nao Munakata menyatakan, berdirinya APEC tahun 1989 dilandasi kekhawatiran akan kemunculan blok ekonomi Eropa (Uni Eropa) dan Amerika Utara (NAFTA). Australia sebagai inisiator utama forum ini menginginkan APEC menjadi ”pintu masuk” baginya ke kawasan Asia Timur, yang dihuni ASEAN dan negara-negara industri baru yang diprediksi akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia masa depan.

Proposal Australia semula tidak menyertakan AS dalam keanggotaan APEC. Keanggotaan AS (dan Kanada) dalam APEC diusulkan Jepang yang saat itu menghadapi kesulitan akibat aneka tekanan ekonomi AS yang sedang dilanda pembengkakan defisit perdagangan yang masif. Bagi Jepang, kehadiran APEC diharapkan menjadi tandingan atas kecenderungan proteksionisme AS, bukan dengan ”mengucilkan”, tetapi dengan memastikan keterlibatan AS di dalamnya.

Semula fokus APEC dibatasi pada liberalisasi ekonomi dengan target-target penurunan hambatan perdagangan secara sukarela. Asumsi di balik pendekatan sukarela ini adalah liberalisasi perdagangan akan menguntungkan negara-negara yang melakukannya karena akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Pandangan ini dinilai tidak cukup oleh ASEAN dan negara-negara berkembang dalam APEC yang menginginkan adanya program-program pembangunan kapasitas untuk menjembatani kesenjangan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang dalam APEC. Keinginan kelompok negara berkembang ini diakomodasi dalam pembentukan The Economic and Technical Cooperation (Ecotec) yang lalu menjadi salah satu pilar penting APEC. Sayang, seperti dicatat oleh Hadi Soesastro (Diplomat Magazine, September/Oktober 2007), pilar Ecotec dalam APEC tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Hal yang sama terlihat dalam rendahnya komitmen atas liberalisasi perdagangan yang telah dicanangkan, yang menyebabkan berbagai keputusan APEC berhenti sebatas kertas. Relevansi APEC dipertanyakan ketika APEC nyaris tidak berbuat apa-apa saat krisis Asia 1997-1998. Hal yang sama terulang dalam krisis finansial global 2008-2009.

Pergeseran relevansi

Relevansi APEC justru menonjol dalam isu-isu keamanan, seperti tecermin dalam penggunaan forum ini sebagai sarana sosialisasi program melawan terorisme global yang dicanangkan Presiden George W Bush sejak 2001. Selanjutnya, kehadiran Obama sebagai pemimpin baru AS yang bertipe pembangun konsensus dipastikan akan berdampak luas bagi arah dan dinamika APEC. Lebih dari para pendahulunya, Obama menunjukkan keinginan besar untuk membangun kedekatan politik dengan negara-negara Asia. Namun, kehadiran militer AS di kawasan ini justru akan dikurangi, sebagaimana tecermin dari keinginan Obama mengurangi sejumlah besar pasukan AS di Okinawa, Jepang.

Padahal, baik Jepang, Australia, maupun ASEAN sama-sama membutuhkan kehadiran AS sebagai faktor penyeimbang kebangkitan ekonomi dan militer China (dan India). Hasrat Hatoyama membawa Jepang lebih independen dari AS dalam politik luar negeri, misalnya, dipastikan terbentur hambatan Pasal 9 konstitusi Jepang, yang membatasi keleluasaan dalam pengembangan kekuatan militernya. Wacana komunitas Asia Timur (yang sama sekali bukan ide baru) yang diungkap Hatoyama dalam KTT ASEAN belum lama ini tampaknya lebih merupakan usaha Jepang tampil lebih proaktif dalam percaturan wacana kelembagaan di Asia Pasifik, untuk mengompensasi kekurangannya di bidang militer, agar Jepang tidak lebih ”tenggelam” berhadapan dengan China yang sedang bersinar.

Ironisnya, semangat multilateralisme dan sikap properdamaian Obama dalam politik global dan regional justru dibarengi kemunduran ekonomi AS yang memaksa mengurangi komitmen atas liberalisasi perdagangan, seperti tecermin dalam keinginan meninjau kembali NAFTA.

Sengketa dagang AS-China yang terus menajam akhir-akhir ini menunjukkan, dalam beberapa tahun ke depan, AS akan terus mempertahankan kecenderungan proteksionisme sampai ekonominya benar-benar pulih. Ini berarti keinginan Singapura sebagai tuan rumah untuk benar-benar mengembalikan APEC pada jalur integrasi ekonomi regional tidak mudah diwujudkan.

Pada masa mendatang, keunggulan APEC akan tetap berasal dari keberadaannya sebagai satu-satunya forum regional yang menjembatani negara-negara di tiga benua berbeda: Asia, Australia, dan Amerika. Dengan cakupan geografis yang luas, ditambah ketimpangan kemakmuran antarnegara anggota yang masih demikian lebar, keunggulan itu justru menjadi sisi lemah bagi efektivitas kerja sama ekonomi yang harus menjadi bisnis utama APEC.

Syamsul HadiPengajar Ekonomi Politik Internasional di Departemen Hubungan Internasional FISIP UI

Read More......

Monday, November 09, 2009

Berspesialisasi Bersama Facebook ::

Sejak tahun 2008 saya benar-benar merasakan dunia cyber sebagai berkah tak terhingga. Sejak tahun itu saya ber-azzam untuk serius menjadikan dunia cyber sebagai salah satu instrumen terpenting dalam pengembangan spesialisasi saya. Pasalnya, sejak tahun ini ada dua komunitas cyber yang begitu signifikan merangsang gairah saya untuk terus berproses otodidak menapaki tangga-tangga spesialisasi.

Komunitas pertama adalah komunitas online “Indo Blawgger” yang saya temukan pertama kali di bulan Januari 2008, ini adalah sebuah komunitas yang beranggotakan para pengelola blog hukum Indonesia yang kebanyakan adalah para akademisi hukum, mahasiswa hukum, peneliti hukum, praktisi hukum, dan bahkan pejabat di lembaga-lembaga hukum Indonesia.

Interaksi dengan komunitas online “Indo Blawgger” ini belakangan saya sadari telah menjadi fase fundamen maha penting dalam keseriusan tekad saya untuk benar-benar mapan berspesialisasi dengan segala ke-otodidakan yang niscaya. Mengingat sampai saat ini, dengan segala realita “takdir” studi di Al-Azhar dan minat karya masa depan, masalah spesialisasi adalah suatu hal yang bagi saya masih terus berproses dan belum pernah bisa saya putuskan secara final, karena di disiplin ilmu saya sendiri (Syariah dan Hukum), ada banyak sekali pilihan sekaligus tuntutan spesialisasi yang begitu dilematis, demikian juga di bidang Diplomasi yang saya minati untuk menjadi cita-cita karya masa depan saya.


Dengan aktif mengikuti perkembangan komunikasi dan wacana di komunitas online “Indo Blawgger” ini, berbagai pencerahan saya rasakan datang bertubi-tubi, saya berkali-kali tersentak menyadari jika sebagai mahasiswa jurusan Syariah dan Hukum, saya memiliki tanggung jawab moral yang lebih banyak, karena dalam satu waktu yang bersamaan, mahasiswa jurusan ini dituntut untuk menguasai segala teori hukum konvensional yang kebanyakan menjadikan hukum Mesir sebagai sampel teoritisnya, juga dituntut untuk mengerti detail tentang Hukum Islam, sekaligus juga dituntut untuk akrab dengan perkembangan realita hukum di tanah air, dan di atas semua itu, saya juga perlahan menyadari jika etika spesialisasi meniscayakan saya untuk berkomitmen menentukan bidang hukum apa yang harus saya kuasai secara mendalam. Klimaksnya, pencerahan itu benar-benar saya rasakan saat saya sampai pada keberanian untuk mengurus aplikasi magang di Departemen Luar Negeri dan diterima sebagai peserta magang perdana dari Al-Azhar setelah bertekad bahwa bidang Hukum Internasional-lah yang akan menjadi pilihan spesialisasi saya dari sektor disiplin ilmu saya di Al-Azhar, dan bidang diplomasi lah yang menjadi pilihan karya masa depan saya.

Pasca magang di Deplu, euforia saya untuk berspesialisasi semakin menjadi-jadi, saya semakin menemukan titik terang di mana saya akan benar-benar mengarahkan navigasi spesialisasi tersebut dengan tetap menyeimbangkan antara tanggung jawab moral atas disiplin ilmu saya di Al-Azhar dan tuntutan cita-cita karya masa depan. Lalu dengan harapan dan keinginan yang dalam, saya lalu mendeklarasikan bahwa Hukum [Internasional], Politik [Internasional], dan Diplomasi adalah bidang-bidang yang harus benar-benar saya tekuni.

Lalu di rentang inilah saya temukan jenis komunitas cyber kedua yang ternyata lebih dahsyat menstimulan saya untuk semakin berserius menekuni bidang-bidang yang telah saya deklarasikan untuk saya tekuni tersebut. Komunitas ini tak lain adalah komunitas Facebook.

Mengapa Facebook daya stimulannya saya sebut lebih dahsyat? Ya, karena semua leading academic advisors yang selama ini sangat pesat menginspirasi saya via komunitas online “Indo Blawgger” semuanya aktif juga berjejaring maya di Facebook, dan selain itu, Facebook memanglah terbukti merupakan media jejering sosial yang pola komunikasi dan kemitraannya sangat cepat terbangun dan tidak mengenal batas geografis bahkan batas golongan maupun kasta, hal ini sangat memungkinkan saya untuk berkenalan dan berinteraksi lebih banyak dengan leading academic advisors yang lain, yang tentu akan sangat membantu saya untuk semakin menemukan jalan dalam memenuhi tanggung-jawab moral deklarasi akademik saya tadi, terlebih jika mengingat bahwa bidang Politik [Internasional] dan bidang Diplomasi yang notabene juga mewajibkan pencapaian wawasan-wawasan di bidang Hubungan Internasional, Isu-isu Internasional, Perkembangan Internasional, dan lain-lain, benar-benar menuntut metode eksplorasi self-tailored atau metode yang meniscayakan perancangan agenda/capaian-capaian akademik secara mandiri.

Dalam deskripsi yang lebih spesifik, bisa disebutkan bahwa perkenalan dan interaksi dengan beberapa rekan yang concern, spesialis dan otoritatif di bidang-bidang tersebut di Facebook benar-benar telah dan terus menghantarkan saya pada beberapa poin kunci dalam menetapkan target-target dan tangga-tangga capaian yang harus saya tempuh di dunia nyata, serta juga menginspirasi saya untuk benar-benar memberdayakan Facebook sebagai instrumen maya terpenting dalam menunjang pencapaian target-target dan penapakan tangga-tangga capaian di dunia nyata tersebut. Dari sinilah inspirasi-inspirasi, agenda-agenda, tangga-tangga proses dan capaian-capaian dunia maya dan dunia nyata saya menemukan sinkronisasinya yang harmonis dan mutual dalam proses pencapaian proyek-proyek akademik saya.

Beberapa contoh sederhana dari sinkronisasi tersebut adalah jika dari para leading academic advisors saya di Facebook saya menemukan poin kunci yang menanamkan paradigma bahwa lembaga-lembaga Think tank adalah sumber-sumber luar biasa untuk memandang dan menekuni bidang Politik [Internasional] dan Diplomasi secara lebih substansial dari sisi keilmuan, maka hal ini menjadi motivasi luar-biasa bagi saya untuk meng-explore beberapa lembaga Think-tank terkait di Cairo dan mengusahakan agar bisa mengikuti forum-forum ekslusif terkaitnya seperti seminar, workshop, training, roundtable discussion, dan lain-lain yang tentunya membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang pakar di bidangnya, sebutlah Lembaga Think tank ICFS (International Center for Future and Strategic), PCSDC (Program of Cultural Studies and Dialogue among Culture), ILF (International Law Forum), ACPSS (Al-Ahram Center for Political and Strategic Studies), dan lain-lain.

Contoh lain, saya selalu berusaha menjadikan beberapa fasilitas Facebook sebagai motivasi untuk mengembangkan wawasan di bidang yang telah saya deklarasikan dan juga sebagai wahana untuk mendialogkannya dengan para leading academic advisors saya dan rekan-rekan Facebook lainnya, seperti sebutlah status Facebook, Notes, atau bahkan Wall yang sering saya gunakan untuk share link-link yang saya beri catatan singkat pembacaan saya, dan saya tak segan-segan men-tag orang-orang yang otoratif di bidang yang sedang saya wacanakan demi input wawasan yang lebih substansial. Dan sinkronisasinya adalah, aktivitas-aktivitas Facebook yang maya ini menuntut saya untuk mengumpulkan archives wacana sebanyak-banyaknya dari aktivitas-aktivitas nyata saya, baik itu studi formal saya di Al-Azhar, maupun program non-degree education saya di Faculty of Economic and Political Science Cairo Uni, atau pembelajaran-pembelajaran di beberapa lembaga Think tank yang saya sebutkan sebelumnya, atau bahkan sekedar dari hasil bacaan saya atas literatur cetak.

Dan Rekans, ketahuilah, meskipun tampak sederhana, aktivitas-aktivitas ber-Facebook yang terbukti telah bersinkron harmonis dan mutual dengan proses pencapaian proyek-proyek akademik saya di dunia nyata, bagi saya tetaplah merupakan upaya-upaya yang meniscayakan keseriusan karena saya sadar bahwa saya masih berlevel pemula di bidang-bidang yang telah saya deklarasikan, dan bahwa deklarasi akademik ini hanyalah merupakan pintu gerbang dari spesialisasi itu sendiri, masih akan ada perjalanan panjang tak terpetakan yang harus saya tempuh.[]


Dimuat di Kolom Suplemen Buletin Terobosan, edisi November 2009

Read More......