Ada keterpanaan saat pertama kali menemukan Tabloid Diplomasi edisi online dua bulan lalu di situs milik Deplu. Sungguh, media ini benar-benar merupakan akses akbar bagi WNI di luar negeri seperti saya untuk bisa tetap update dengan perkembangan diplomasi Indonesia.
Dalam pandangan saya, tabloid yang diterbitkan oleh Direktorat Diplomasi Publik-Deplu bekerja sama dengan Pilar Indo Meditama ini, tampak sebagai gerbang penalaran untuk lebih akrab memahami dinamika Departemen Luar Negeri dalam memerankan diplomasi Indonesia di kancah internasional. Dari tabloid ini, bisa dibaca bagaimana Indonesia dan Deplu memposisikan dirinya di tengah-tengah sesaknya isu global.
Secara substantif, tabloid ini sudah sangat meng-cover segala lini dinamika dan capaian-capain diplomasi Indonesia ter-update. Penyajiannya yang menarik dan relatif ringan benar-benar menjadikannya sebagai tabloid yang tidak ekslusif untuk kalangan yang terkait atau yang berkepentingan saja, tapi justeru menyerupai media sosialisasi progress report diplomasi Indonesia kepada masyarakat secara umum.
Di edisi Desember 2008/Januari 2009 dan Januari/Februari 2009, Tabloid Diplomasi ini banyak menyorot masalah Bali Democracy Forum (BDF), yang seperti dikemukakan oleh Dewan Redaksi Tabloid Diplomasi, merupakan bagian dari langkah Indonesia untuk mengukuhkan eksistensinya sebagai negara yang berpotensi menjadi pusat pandangan dunia. Di mana lewat BDF ini, Indonesia berinisiatif melakukan langkah awal guna mengarahkan peningkatan kerjasama internasional dan regional dalam bidang demokrasi, serta pengembangan masalah politik bagi negara-negara demokrasi dan negara peminat demokrasi di dunia, terutama di Asia.
Selain itu, dua edisi tersebut juga mengangkat isu-isu lain, seperti di edisi Desember 2008/Januari 2009 yang juga mengangkat masalah Interfaith Dialogue yang gencar dilaksanakan sebagai upaya untuk mengatasi berbagai miss-interpretasi dan pandangan dalam kehidupan beragama, berikut juga beberapa “Focus Op-Ed” seputar ASEAN seperti kritisme atas ASEAN Community dari Peneliti CSIS, Rizal Sukma, yang men-statement bahwa ASEAN Community akan sulit tercapai tanpa demokratisasi, juga penegasan Ketua Pansus Piagam ASEAN, Marzuki Darusman, bahwa RI sebenarnya mendorong prinsip demokrasi dan HAM dalam Piagam ASEAN.
Kemudian di edisi Januari /Februari 2009, yang antara lain memuat juga suntingan Op-Ed Dubes RI untuk AS, Sudjadnan Parnohadiningrat, yang termuat di Kompas tentang Presiden RI dan Babak Baru Hubungan Indonesia-AS, serta juga penjelasan Watapri untuk PBB, Marty Natalegawa, tentang keputusan Indonesia memilih abstain dalam pemungutan suara proses adopsi resolusi sidang darurat Majelis Umum PBB karena Indonesia menilai bahwa resolusi ini tidak cukup keras mengutuk Israel.
Sementara di edisi Februari/Maret 2009, Tabloid Diplomasi memuat banyak hal, antara lain review tentang kunjungan Hillary Rodham Clinton, yang dilaporkan berbuah komitmen kuat RI-AS untuk membangun kemitraan komprehensif. Juga beberapa review seputar wacana dan kinerja KPU, khususnya PPLN dalam mempersiapkan pemilu legislatif bagi WNI di luar negeri 9 April mendatang. Serta juga beberapa sorotan tentang citra Indonesia yang semakin membaik di mata internasional terkait masalah penegakan HAM berikut review isu tematik HAM 2008 dan statemen bahwa Indonesia adalah negara paling terbuka untuk kerja sama HAM dan memiliki pasukan perdamaian yang bersih dari pelanggaran HAM dalam beberapa Op-Ed. Di samping juga beberapa wacana yang terfokus pada Rusia, antara lain yang terkait dengan laporan bahwa hubungan bilateral Indonesia-Rusia semakin erat, dan wacana yang mensinyalir bahwa peluang studi di Rusia makin terbuka bagi masyarakat kita dan realita bahwa Indonesia masih sangat minim ahli tentang Rusia.
Lalu satu hal terakhir, seperti yang dipromosikan oleh Menlu Hasan Wirajuda dalam Sambutan Pengantarnya pada acara Foreign Policy Breakfast dalam rangka HUT Deplu ke-63 lalu, bahwa cover Tabloid Diplomasi ini kerap menampilkan para artis cantik sebagai penarik minat publik, seperti di tiga edisi terakhir yang secara berturut-turut menampilkan Tamara Bleszynski, Dian Sastro dan Zivanna Letisha.
Namun betapapun demikian, meskipun pemuatan artis-artis cantik sebagai bintang cover Tabloid Diplomasi tersebut sekilas cenderung “nge-pop”, saya kira kita tetap tidak bisa memandang hal ini sebagai bentuk pragmatisme Deplu, karena artis-artis cantik tersebut juga hadir dengan kapasitasnya masing-masing sebagai bagian tak terpisah dari upaya diplomasi Indonesia secara umum, seperti halnya Tamara dengan kapasitasnya sebagai Duta Tinju yang banyak membantu memberikan dukungan untuk perkembangan dunia Tinju tanah air, juga Dian Sastro yang berkapasitas sebagai Duta Wirausaha Muda, dan Zivanna Letisha dengan kapasitasnya sebagai Puteri Indonesia yang tentu akan menjadi duta Indonesia dalam perhelatan Miss Universe mendatang.

