Dari beragam wacana dan pandangan yang tersebar di beberapa media (khususnya Kompas), berikut disimpulkan beberapa fakta dan persepsi penting terkait agenda kunjungan kenegaraan Hillary Clinton ke Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya.
- Agenda kunjungan kenegaraan Hillary mengundang banyak wacana karena sosok Hillary secara pribadi memang tergolong sangat istimewa. Selain cerdas, ia memiliki riwayat karir luar-biasa. Ia adalah mantan US First lady dan juga calon presiden yang ketangguhannya tetap mengundang interest di tengah fenomena Barack Obama yang menghegemoni.
- Posisi Hillary selaku Menlu AS yang merupakan salah satu pilar utama dalam pemerintahan Obama, dipandang sebagai salah satu peran penentu dalam penetapan arah kebijakan luar-negeri AS yang sampai saat ini masih menjadi objek prediksi banyak pihak.
- Ditetapkannya Asia sebagai kawasan pertama yang menjadi sasaran kunjungan kenegaraan Hillary dipandang banyak pihak sebagai bentuk pergeseran prioritas di pemerintahan Obama. Mengingat pada tiga masa pemerintahan sebelumnya. Tiga Menlu AS secara berturut-turut—Madeleine Albright, Colline L Power, dan Condoleezza Rice—justru mengutamakan agenda kunjungan kenegeraan mereka ke Eropa dan Timur Tengah.
- Menguatnya regionalisme di Asia, khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara, banyak dipandang sebagai motif utama ditetapkannya Asia sebagai kawasan pertama yang menjadi sasaran kunjungan Hillary sekaligus sebagai sasaran pembenahan citra baik AS selaku negara yang selalu berperan dalam menyelesaikan pemasalahan-permasalahan yang tidak bisa diselesaikan oleh negara manapun di dunia ini. Hal ini terjadi menurut Edy Prasetyono, karena selama beberapa tahun terakhir, khususnya di masa pemerintahan Bush, ada banyak ditemukan period of neglect dalam kebijakan luar negeri AS atas Asia Timur dan Asia Tenggara yang harus dibayar mahal dengan meningkatnya pengaruh diplomasi China di tengah-tengah negara Asia.
- Menurut mantan Duta Besar AS untuk Indonesia, Stapleton Roy, China menjadi begitu mengancam bagi AS karena China saat ini memiliki posisi yang relatif lebih kuat dibandingkan AS. Jika China bisa pulih lebih dahulu dari krisis perekonomian global dibandingkan AS, China bisa menggantikan kekuatan global yang dimiliki AS.
- Masuknya Indonesia dalam daftar agenda kunjungan kenegaraan Hillary mengundang ragam wacananya tersendiri. Sebagian kalangan memandang bahwa hal ini merupakan indikasi positif atas citra baik potensi peranan Indonesia bagi keberlangsungan dinamika Internasional, baik karena fenomena demokratisasi di Indonesia yang terbukti telah melampau negara-negara lain di Asia, maupun jika mengingat secara geopolitik dan geostrategis, Indonesia adalah negara terpenting di antara negara-negara lain di kawasan ASEAN dan Asia Timur. Sementara di sisi lain, Abdillah Toha sempat mewacanakan jika kunjungan kenegaraan ke Indonesia ini lebih merupakan kunjungan simbiolis ketimbang kunjungan substantif, karena tidak seperti kunjungan ke Jepang, Korea dan China yang membawa isu-isu yang lebih jelas dan umum diketahui di AS, kunjungan ke Indonesia tidak memuat agenda mendesak yang menjadi prioritas Amerika.
- Menurut Menlu Hassan Wirajuda, kredibilitas Indonesia yang semakin kuat di mata AS merupakan salah satu alasan mengapa Indonesia dipilih menjadi salah satu dari sedikit negara yang dikunjungi Hillary. Hal lainnya menurutnya adalah terkait keberhasilan Indonesia menjadi model di mana demokrasi, Islam, dan modernitas dapat berjalan beriringan. Yang mana di Indonesia ditemukan semacam shared values dalam bidang demokrasi, pemajuan dan perlindungan HAM, pluralisme serta toleransi.
- Seperti yang diinformasikan oleh Abdillah Toha, Global Trends 2025: “A transformed World” yang dirilis oleh National Intelligence Council (NIC) AS, menyebutkan bahwa Indonesia akan berperan penting dalam dekade mendatang, yakni di masa ketika hegemoni AS dan Eropa menurun, mengalahkan Singapura dan Malaysia yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Hal ini karena Indonesia dilukiskan sebagai entitas yang kekuatan ekonomi dan politiknya diperkirakan kian meningkat.
- Menurut Abdillah Toha, kunjungan Hillary akan sukses dari sudut pandang pemerintahan baru Amerika dalam hubungan dengan Indonesia bila setelah pulang, Hillary meninggalkan kesan positif, tidak mendikte dan menegaskan perubahan politik luar negeri AS yang lebih halus dan akomodatif. Dan mengingat retorika nasionalisme dan isu palestina yang sensitif, terutama menjelang pemilu 2009, disarankan agar Hillary berhati-hati mewacanakan konflik Timur-Tengah yang sudah berjalan puluhan tahun.
- Masih menurut Abdillah Toha, dalam rangka melaksanakan amanat konstitusi untuk menciptakan perdamaian dunia yang adil dan abadi, Indonesia mungkin bisa menawarkan jasa baik sebagai penengah atau mediator konflik Iran-Amerika yang dipicu antara lain oleh dugaan upaya Iran mengembangkan senjata nuklir. Tidak banyak negara yang mempunyai hubungan baik dengan Iran sekaligus Amerika seperti Indonesia. Kesempatan emas ini juga diperkuat respon positif Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad baru-baru ini terhadap tawaran Presiden Obama untuk membuka dialog langsung. Sementara dalam hal konflik Palestina, Indonesia juga bisa menawarkan jasa untuk membuka dialog dengan kelompok Hamas dalam rangka persatuan Palestina menuju perdamaian, mengingat Indonesia mempunyai hubungan baik dengan kedua faksi yang bertikai, dan penyelesaian konflik Israel-Palestina tidak akan bisa dicapai tanpa adanya pemerintahan Palestina yang bersatu.
- Secara umum, isu-isu yang akan dibahas Hillary dengan para pemimpin negara dan pejabat tinggi lainnya terkait dengan perubahan iklim, ketahanan pangan, pendidikan, energi, serta dampak krisis keuangan global.
- Menurut Juru Bicara Deplu, Pemerintah Indonesia hendak mengetahui cetak biru kebijakan AS di bawah pemerintahan Obama.
- Sementara menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal, salah satu pokok bahasan antara Presiden SBY dan Hillary adalah proposal perdamaian Palestina. Beberapa pihak juga menyarankan agar Pemerintah Indonesia membahas mengenai keberadaan korporasi AS di Indonesia, khususnya pertambangan.

